Sunday, January 1, 2012

Mimpi jadi Milyarder ?

 (image from http://gaharu-blackgold.blogspot.com)

Jika dilihat, trend belakangan ini dimana ratusan ribu bahkan jutaan pohon gaharu telah ditanam secara budidaya oleh manusia dengan tujuan utama untuk menghasilkan uang berlimpah dari produk yang dihasilkannya, apakah pohon gaharu masih termasuk tanaman langka sekarang ini ? memang apabila dicermati sejarah sebelumnya dimana eksploitasi pohon penghasil gaharu alam telah sedemikian parahnya,  penebangan liar oleh nafsu manusia untuk mendapatkan hasil secara instan tanpa susah susah merawat pohon telah mengakibatkan hampir punahnya populasi gaharu dari hutan hutan di berbagai negara di Asia Tenggara.

Dari berbagai berita di media diketahui bahwa permintaan akan gubal gaharu dan by-product lainnya belum dapat dipenuhi dengan optimal, maka tidak ada jalan lain budidaya gaharu memang bagaikan seorang putri cantik yang menarik minat setiap orang untuk memilikinya (baca : membudidayakannya), yang tak dapat dipungkiri bertujuan utama secara ekonomi bukan konservasi. Akan tetapi yang menjadi pertanyaan adalah apakah suatu saat dimana panen raya akan mengakibatkan membludaknya gaharu dipasaran tidak mengakibatkan jatuh bebasnya harga dipasaran ? logika bodoh mengatakan ketika supply jauh diatas demand maka pembeli benar-benar menjadi raja dan menentukan harga, dan juga sebaliknya.

Tulisan ini bukan untuk memprovokasi orang agar tidak menanam gaharu, akan tetapi sebagai sebuah ajakan bagaimana para pelaku usaha gaharu ini dapat bekerjasama sedemikian rupa sehingga terjadi kestabilan pasokan yang berujung pada kestabilan harga dalam persfektif jangka panjang. Kita tidak boleh terbuai dengan informasi harga-harga sekarang (entah benar atau tidak) yang seolah-olah mengatakan "tanam gaharu sekarang, maka 8 tahun lagi anda jadi miliarder". Karena disamping faktor kualitas gaharu yang dihasilkan, masih banyak faktor-faktor lain yang bisa mengakibatkan anjloknya harga di pasaran suatu saat nanti (mimpi gak jadi nyata hehe...), seperti :  tidak seimbangnya demand and supply, kemungkinan ditemukannya produk artificial pengganti gaharu alami, jalur distribusi / rantai pemasaran.


Dengan demikian dibentuknya lembaga seperti ASGARIN serta peran serta pemerintah dalam menciptakan regulasi dan situasi bisnis yang kondusif sangatlah dibutuhkan, agar jangan sampai bisnis gaharu bernasib sama dengan anthurium beberapa masa yang lalu, "booming rame rame nanam, panen harga murah bahkan tidak laku". bagaimana pendapat bro dan sis yang lain ????

Mengenal Aquilaria Hirta

Aquilaria Hirta adalah salah satu species gaharu penghasil gubal yang tumbuh secara alami di Indonesia dan Malaysia,  

 Perbandingan daun a hirta dengan subintegra

 Perbandingan daun a hirta dengan mallaccensis

more info about aquilaria hirta : Aquilaria Hirta - Candan( taken from http://gaharucandanku.blogspot.com), malaysian language

Candan - Aquilaria Hirta

 Aquilaria Hirta adalah antara spesis karas/ gaharu yang terdapat di Malaysia. Ianya lebih dikenali sebagai candan. Pokok candan hanya terdapat ditempat tempat tertentu sahaja. Meskipun di kampung saya pokok gaharu spesis malaccensis dan agallocha tumbuh merata rata dibelakang, depan kiri dan kanan rumah tetapi spesis candan ini tidak dikenali langsung. Bahkan spesis karas tersebut ada yang ditebas diracun begitu sahaja sebelum ini. Sekarang, masa telah berubah, saya lihat ramai yang mulai sedar dan ada yang memulihara pokok karas yang tumbuh sendiri dikebun kebun getah. Sungguhpun begitu sangat sedikit yang mengambil usaha menanam pokok gaharu sepertimana menanam pokok getah dan sawit. Berbalik kepada candan daunnya berbulu dibahagian bawahnya dan batang pokok berwarna tompok keputihan. Saya mendapatkannya dari sahabat saya orang asli di Rompin Pahang. Candan perlu ditanam di kawasan yang teduh dan mendapat siraman air yang mencukupi. Daunnya mudah gugur sekiranya syarat tersebut tidak dipenuhi. Melalui pembacaan saya, candan dikatakan mempunyai harga yang lebih mahal dari spesis karas yang lain menyebabkan saya begitu teruja untuk menanamnya. Menurut sahabat saya ini candan menghasilkan gaharu sendiri tanpa perlu ditakik. Bermakna tidak perlu stress atau suntikan untuk menghasilkan gaharu candan.  Candan boleh menghasilkan gaharu tanpa inokulan. Bermakna bila sampai masanya, tidak memerlukan  modal tambahan untuk membeli vaksin inokulan. Beliau dengan penuh kesungguhan dalam terkejut menceritakan pernah menjual gaharu jenis candan yang sebesar ibu jari tangan dan tidak sampai 100 gm pada harga RM900.00 kepada peraih gaharu.  Menurutnya pokok candan tu hanya sebesar lengan budak saja.  Bermakna kalau sepokok boleh menghasilkan RM900. Bagaimana pula kalau menanam sebanyak 1000 pokok untuk seekar dengan jarak 6' X 6'. Pasti sekurang kurangnya RM900000 boleh terhasil. InsyaAllah. Itu baru pada harga peraih, harga kita menjual sendiri berapa harga gamaknya.  Dia sendiri dengan penuh confident berkata kepada saya ketika saya tengah membelek belek beratus ratus pokok candan yang saya  tempah darinya, "Jadi juntawan engkau'" saya bertanya balik "apa dia abang wahab?" takut pulak kot kot saya perasan lebih. "Jadi jutawan engkau" ulangnya lagi. Saya bertanya lagi "jutawan?" dan dia menganggukkan kepala. Tanpa sedar bulat mata hitam saya dibuatnya. Saya pula yang terkejut. Jarang saya terkejut. Alamak... Dalam diam dia pun tahu. Handalnya.. Pepatah melayu sering menyebut, diam ubi berisi, nampaknya sekarang ini diam gaharu jutawan  engkau.

Mengenal Aquilaria Microcarpa

Aquilaria microcarpa Baill. (family Thymelaeaceae) merupakan jenis pohon penghasil gaharu yang ditemui di Hutan Lindung S. Wain. Adapun ciri morfologi jenisnya adalah sebagai berikut :

Pohon mempunyai tinggi mencapai 40 m dengan diameter batang 80 cm.
Kulit batang bagian luar berwarna abu-abu keputihan, pada pohon tua kulit bagian luar jika diraba terasa lunak atau rapuh dan mudah mengelupas. Kulit batang bagian dalam berwarna putih krem dan kayu gubalnya berwarna putih.
Ranting muda berwarna coklat terang dan berbulu halus.
Daun berwarna hijau
kadang terdapat bintik
-bintik putih dan tepi daun bergelombang, pada bagian atas daun muda tidak terdapat bulu tetapi pada bagian bawah kadang dijumpai adanya bulu-bulu halus, merupakan daun tunggal dengan bentuk daun menjorong hingga lonjong, membundar telur sungsang hingga lonjong atau melanset sungsang dengan panjang 4,5 – 10 cm dan lebar 1,5 – 4,5 cm. Pangkal daun membaji hingga menirus, ujung daun meruncing dan kadang berekor dengan panjang hingga 1 cm. Tulang daun sekunder 12-19 pasang,urat daun tidak beraturan, kadang bercabang, terlihat jelas dari permukaan atas daun. Tangkai daun dengan panjang 3-5 mm, berbulu.
Perbungaan di ujung, ketiak dan diatas ketiak tangkai dengan bunga berwarna putih, kuning terang atau kuning dengan panjang hingga 5.mm, berbulu halus. Kelopak bunga berbentuk bulat telur hingga lonjong, menumpul, berbulu tebal pada kedua permukaan. Bagian mahkota bunga pada umunya lebih panjang dari benangsari, bulat telur hingga lonjong dan berambut tebal. Benangsari panjang 1-1,5 mm, berseling panjang dan pendek dengan kepala sari berukuran 0,5mm. Bakal buah berbulu tebal dengan kepala putik mementol.
Buah kapsul berbentuk menjantung (subcordate), dengan ukuran 8-12(-16) mm sampai 10-12(-15) mm, terdapat 1-2 biji dalam satu buah.
Biji bulat telur dengan ukuran 6-4 mm, berbulu tebal berwarna kecoklatan


Aquilaria Malaccensis Lam

Taxonomy and nomenclature
Family: Thymelaeaceae
Synonyms: Aquilariella malaccensis (Lam.) v.  Tieghem, Aquilaria agallochaRoxb.Vernacular/common names: agarwood, Malayan eagle wood, Malayan aloe wood (Eng.); calambac,calambour (Fr.); gaharu (Indonesia); karas (Sunda-nese); kekeras and kepang (Malaysia).Related species: The genus Aquilaria consists of a number of species in SE Asia – Pacifi c several of which produce ‘eagle wood’. The most widely used
are A. crassna (Indochina) and A. sinensis (S. China). Because of the valuable agarwood several Aquilaria species have been overexploited and are critically endangered.

Distribution and habitat
A. malaccensis occurs in India, Burma, Malaysia, Philippines and Indonesia. In Indonesia mainly in Sumatra (Sibolangit, Bangka, Jambi, Riau and South Sumatra), Kalimantan, Sulawesi, Moluccas andPapua. It is found in primary and secondary forest, mainly in lowland and on hillsides at 200-750 m altitude, Koeppen climate type A – B with temperatures of 14 – 32°C and annual rainfall of 2.000-4.000 mm. It grows on sandy clay soil.

Uses
The wood is hard and light with rough texture, white or brownish yellow. Main use is the agarwood, a highly appreciated and priced fragrant wood caused by accumulation of scented resin. Production of agar- wood may be infl uenced both by genetic and environmental factors but the general understanding is that the fragrant oleoresin that permeates the heartwood of some trees is produced as a response to wounding and/or fungal infection. Agarwood contains more than 12 chemical components that can be extracted. They have a wide use in medicine (general pain reducer, dental pain, kidney and rheumatism medicine),as venom repellent, in perfume and as incense raw material. Wood without or with low content of resin can be used for boxes, interior or veneer. The innerfi brous bark has occasionally been used locally as raw material for clothing and ropes.

Botanical description
Up to 20 - 40 m tall and 60 cm in diameter. Young ark is light brown with fi ne hairs, older bark is smooth and whitish in colour. Wood without resin is white, light and soft, while wood with resin is hard, dark and heavy. Leaves alternate, elliptic or lanceolate, 3-3.5 cm wide and 6-8 cm long with 12-16 pairs of veins. Infl orescence a terminal or axillary umbel. Flowers hermaphroditic, up to 5 mm long, fragrant
and yellowish green or white. 
 
Fruit and seed description
Fruit: green, egg-shaped capsule, leathery exocarp with fi ne hairs, 4 cm long and 2.5 cm wide. There are
two seeds per fruit. Seed: ovoid, blackish brown and densely covered with red-brown hair. There are about 1500 seeds per kg.

Flowering and fruiting habit
The tree starts fl owering and fruiting at the age of 5-6 years and medium sized trees are reported to produce
about 1.5 kg of seed during good seed years. Flowering and fruiting occur in the dry season. In Sumatra,fl owering and fruiting season is twice a year. Trees fl owering in July-August have mature fruits in November-December; trees fl owering in March-April bear fruits in July-August.

Harvest
Mature fruits are blackish brown. The fruits should be collected directly from the tree.

Processing and handling
Seed is separated from the fruit by drying until the fruit splits open.

Storage and viability
Seeds are recalcitrant. Viability drops when the seeds are dried to a moisture content between 35% and 20% mc, with rapid loss in viability occurring below 20% mc and total loss at 7-11% mc. The seed cannot be stored for long and it is recommended to sow shortly after harvest. Storing in open sacks in a dry room may prolong viability.

Sowing and germination
Viable and non-viable seeds can be separated before sowing by flotation. Empty or dead seed float while full and viable seeds sink in water. A light sowing media is preferred e.g. prepared by mixing soil, organic compost and paddy husk 1:1:1. Seeds are sown on top of the seedbed, then pressed lightly into the medium and covered with a layer of 1-2 cm fine compost. Nursery beds, and later transplant beds, should be kept under shade. Most seeds germinate within three weeks and fresh seed should have about 70-80% germination. When the seedlings have three leaves they are transplanted into polybags. Before planting out, the shade should be gradually reduced.
 
Phytosanitary problems
Seedlings of A. malaccensis are prone to a leaf tip flea, which sucks leaf fluid of the seedling and causes leaves to curl and seedlings to get stunted. Treatment with pesticide may be necessary. Germinating seeds and young seedlings are prone to damping off disease caused by fungi. Careful preparation of seedbed avoiding too much moisture is the best precaution.
 
Vegetative propagation
Vegetative propagation is relatively easy. Mass propagation can be done by rooting of cuttings after treatment with rooting hormones. Other types of vegetative propagation are marcotting (air-layering), occultation and tissue culture.

Selected readings
Oyen, L.P.A. and Nguyen Xuan Dung (eds). 1999. Plant Resources of South-East Asia No. 19. Essential oil plants. Backhuis Publ., Leiden, the Netherlands, pp. 64-67.
Direktorat Bina Usaha Perhutanan Rakyat. 2002. Pedoman Pengembangan Usaha Budidaya Gaharu. Jakarta.
Heyne, K. 1950. Tumbuhan Berguna Indonesia Jilid III, Cetakan ke-1. 1987, hal 1467-1469. Translated by Forestry Development and Research Centre. Ministry of Forestry. Jakarta.
Kundu, M. and Kachari, J. 2000. Desiccation sensitivity and recalcitrant behaviour of seeds of Aquillaria agallocha Roxb. Seed Science and Technology 28: 755-760.
Forestry Extension Center. 1997. Budidaya Gaharu. Jakarta.
Sumarna Yana, Achmad Syaffari and Nina Mindawati. 2001. Pembibitan Jenis Pohon Penghasil Gaharu (Aquilaria malacensis Lamk). Natural Conservation and Forest Development and research Center Forestry Development and Research Center. Bogor.
THIS NOTE WAS PRODUCED IN COLLABORATION WITH INDONESIA FOREST SEED PROJECT.
Author: Nelsi Adelina (BPTH Sumatra)

tahap kegiatan budidaya gaharu

Budidaya gaharu terdiri dari beberapa tahap kegiatan antara lain:

Pemilihan Species
Aquilaria malaccensis, A. microcarpa serta A. crassna adalah species penghasil gubal gaharu dengan aroma yang sangat disenangi masyarakat Timur Tengah, sehingga memiliki harga paling tinggi.
Lokasi Penanaman.
Gaharu dapat ditanam mulai dari dataran rendah sampai pegunungan dengan ketinggian 750 m dpl.
Pola Tanam
Monokultur atau sistem campur (tumpangsari, atau agroforestry)
Jarak Tanam
Jarak tanam 3 x 3 m (1.000 pohon/ha.), namun dapat juga 2.5 x 3 m sampai 2.5 x 5 m. Jika tanaman gaharu ditanam pada lahan yang sudah ditumbuhi tanaman lain, maka jarak tanaman gaharu minimal 3 m dari tanaman tersebut.
Lubang tanam
Ukuran lubang tanam adalah 40 x 40 x 40 cm. Lubang yang sudah digali dibiarkan minimal 1 minggu, agar lubang beraerasi dengan udara luar. Kemudian masukkan pupuk dasar, campuran serbuk kayu lapuk dan kompos dengan perbandingan 3 : 1 sampai mencapai ¾ ukuran lubang. Kemudian setelah beberapa minggu pohon gaharu, siap untuk ditanam.
Penanaman
Penanaman benih gaharu sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan di pagi hari sampai jam 11.00, dan dapat dilanjutkan pada jam 4 petang harinya.
Pemeliharaan
Pemupukan dapat dilakukan sekali 3 bulan, namun dapat juga setiap 6 bulan dengan kompos sebanyak 3 kg melalui pendangiran dibawah canopy. Penggunaan pupuk kimia seperti NPK dan majemuk dapat juga ditambahkan setiap 3 bulan dengan dosis rendah (5 gr/tanaman) setelah tanaman berumur 1 tahun, kemudian dosisnya bertambah sesuai dengan besarnya batang tanaman. Hama tanaman gaharu yang perlu diperhatikan adalah kutu putih yang hidup di permukaan daun bawah, bila kondisi lingkungan lembab. Pencegahan dilakukan dengan pemangkasan pohon pelindung dan pruning agar kena cahaya matahari diikuti penyemprotan pestisida seperti Tiodane, Decis, Reagent dan lain-lain Pembersihan gulma dapat dilakukan sekali 3 bulan atau pada saat dipandang perlu.
Pemangkasan pohon dilakukan pada umur 3 sampai 5 tahun, dengan memotong cabang bagian bawah dan menyisakan 4 sampai 10 cabang atas. Pucuk tanaman dipangkas dan dipelihara cukup sekitar 5 m, sehingga memudahkan pekerjaan inokulasi gaharu (http://link-entrepreneur.com)

Serangan Ulat Heortia vitessoides

TAK SEHELAI DAUN PUN TAMPAK PADA DERETAN 100 POHON GAHARU ITU. PADAHAL, 4 BULAN SEBELUMNYA POHON-POHON BERUMUR 2 TAHUN ITU TERLIHAT RIMBUN DAN HIJAU.

Deretan gaharu gundul itu ada di lahan Mansur Tanca, pekebun di Berau, Kalimantan Timur. Ia membudidayakan 2.000 gaharu Aquillaria malaccensis di lahan 3 ha. ‘Awal Oktober 2009 baru 5 pohon yang terserang ulat, tapi pada Januari 2010 sudah 100 pohon gaharu yang mati,’ ujar Tanca. Biang kerok penggundulan daun gaharu adalah segerombolan ulat Heortia vitessoides seukuran 2 - 3 cm penghasil gubal wangi.
Pohon-pohon milik Ani, pekebun di Desa Cikarawang, Kecamatan Darmaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mengalami hal sama. Padahal, pohon-pohon itu menjelang panen. Sebab, Ani sudah 2 tahun menginsersi atau menyuntikkan cendawan ke batang pohon gaharu. Namun, pada Agustus 2010 ribuan ulat menggerayangi pohon anggota famili Thymelaeaceae itu.
Dari India
Serangan ulat juga merebak di berbagai sentra gaharu di Indonesia seperti Bangka, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Nusa Tenggara Barat. Menurut Dr Erdy Santoso, periset gaharu di Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam (P3HKA), Gunungbatu, Bogor, Jawa Barat, serangan ulat pada gaharu pertama tercatat pada 2008 di Carita, Banten.
Di luar negeri, kasus pertama terjadi di India pada 1998. Serangan ulat H. vitessoides juga terjadi di Vietnam, Fiji, dan Australia. Di Bangka ulat heortia bukan hanya menyerang gaharu budidaya, tetapi juga pada gaharu alam. Artinya, sebelum ditemukan kasus serangan parah di Carita, kemungkinan ulat itu sudah ada. Namun, terjadinya ledakan populasi hama itu baru 2 tahun silam.
Menurut Erdy ledakan serangan antara lain terjadi karena merebaknya penanaman gaharu secara monokultur dan kurangnya predator alami. Sedangkan Gregori Garnadi Hambali, ahli Biologi alumnus University of Birmingham, mengatakan penanaman mahkotadewa yang marak belakangan ini juga diduga memicu ledakan serangan ulat. Gaharu dan mahkotadewa masih sekerabat, keduanya anggota famili Thymelaeaceae. Masyarakat menanam mahkotadewa sebagai tanaman obat multikhasiat.
Erdy Santoso belum bisa memastikan penyebab meledaknya serangan heortia di Indonesia. Ngengat atau serangga dewasa heortia meletakkan telur di permukaan bawah daun gaharu. ‘Seekor ngengat menelurkan 350 - 550 butir,’ kata doktor alumnus Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor itu. Wajar bila ribuan ulat menghuni sebuah pohon. Telur menetas setelah berumur 10 hari dan menjadi larva atau ulat. Pada fase itulah serangan terjadi. Ulat memakan daun gaharu. Mula-mula pucuk, kemudian daun muda, tua, tangkai daun, dan ranting muda pun mereka sikat habis, tanpa tersisa.
Tingkat serangan berkisar 20 - 100%. Pada tingkat serangan 100%, tanaman gundul seperti tampak di kebun Mansur. Stadium larva berlangsung selama 23 hari, setelah itu ulat menjadi kepompong selama 8 hari. Kepompong membuka menjadi ngengat kembali yang hidup selama 4 hari. Karena hanya stadium larva yang menyerang tanaman, wajar jika siklus hidupnya relatif bersamaan, hama itu tampak seperti menghilang beberapa saat. Namun, setelah itu serangan bisa muncul kembali.
Menurut Mansur, serangan kedua itulah yang berakibat fatal ke pohon gaharu miliknya. ‘Pada serangan pertama, tanaman yang gundul masih bisa tumbuh lagi. Tetapi saat terkena serangan lagi, langsung mati,’ ujar Mansur. Sebab, kecepatan tumbuh pohon untuk memulihkan kondisinya kalah cepat ketimbang pertumbuhan populasi ulat.
Rangrang
Kematian dini pada tanaman gaharu sangat merugikan pekebun. Oleh karena itu mengendalikan serangan ulat merupakan langkah tepat. Untuk mengendalikan serangan ulat, pekebun dapat menggunakan insektisida baik kimiawi maupun nabati. Menurut Erdy, pekebun perlu waspada ketika menggunakan insektisida kimiawi terutama jika daun gaharu dimanfaatkan sebagai teh.
‘Kandungan bahan aktif insektisida bisa terakumulasi di dalam daun dan terkonsumsi manusia,’ ujar Erdy. Selain itu, penggunaan insektisida kimia juga mencemari lingkungan. Pilihan lain untuk mengatasi serangan ulat adalah bakteri Bacillus thuringiensis atau cendawan Beauveria bassiana yang merupakan parasit pada heortia. Pekebun dapat menyemprotkan kedua mikroba yang tersedia dalam bentuk cairan itu pada ulat atau kepompong. Akibatnya, ulat menjadi terinfeksi bakteri/cendawan itu dan bisa menularkan ke ulat lain hingga sakit dan mati.
Cara lain yang lebih sederhana tetapi cukup efektif adalah menggunakan semut rangrang Oecophylla smaragdina. Semut itu menjadi predator telur dan larva heortia. ‘Namun, hindari menggunakan semut rangrang dari tempat yang berbeda untuk kebun gaharu yang sama,’ ujar Erdy. Sebab, jika koloni semut dari tempat yang berbeda disatukan, semut itu bukannya menjadi predator ulat tetapi justru saling berperang. Upayakan semut-semut merasa betah dan menetap di pohon gaharu. Caranya, gantungkan tulang ayam atau ternak di pohon gaharu. Pekebun tak perlu menempatkan rangrang di setiap pohon, cukup membuat ‘jembatan antarpohon’ bagi semut rangrang dengan seutas tali.
Untuk mencegah serangan ulat, pekebun perlu memangkas ranting-ranting gaharu terutama di bagian bawah. Sebab, ngengat-ngengat itu diduga terbang rendah. Oleh karena itu ngengat tidak bisa meletakkan telur di daun gaharu jika pekebun memangkas ranting-ranting yang rendah. ‘Untuk pencegahan jangka panjang, penanaman gaharu perlu ditumpangsarikan dengan tanaman lain,’ kata Erdy. Contoh tanaman itu antara lain singkong, cabai, pisang, maupun tanaman buah dan perkebunan seperti durian, karet, kelapa sawit, serta sengon.
Artikel ini di copy dan diedit dari www.trbus-online.com

Pola Menanam Gaharu

Dalam literatur dikatakan bahwa pohon gaharu intolerant, sehingga perlu naungan.  Dan pada kenyataannya di lapangan juga banyak ketidakberhasilan penanaman gaharu karena paparan sinar matahari terik  padanya.  Tapi apakah demikian halnya, coba perhatikan tanaman gaharu di Ipoh – Sabah di bawah ini sebanyak 200.000 pohon ditanam dalam kondisi monokultur dan serempak.

Tapi juga bisa dilihat  juga tanaman gaharu di Cantaburi di bawah ini yang juga monokultur pada usia 5 tahun dan sudah mulai di-inokulasi.

Lihat juga tanaman di bawah ini dimana gaharu bercampur dengan tanaman buah-buahan seperti durian dan langsat (?).


Jadi kesimpulannya bagaimana sebaiknya menanam gaharu, terserah pada kita yang mau nanamnya. Yang penting cukup mendapatkan perawatan dan mendapatkan nutrisi untuk hidup.
http://mesujikab.go.id